Hal yang paling bermanfaat dalam meniti peristiwa di masa mendatang adalah
mengamalkan do’a yang diamalkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
“Artinya : Ya Allah, Perbaikilah kehidupan religiku, yang ia
adalah benteng bagi segala urusanku. Perbaikai urusan duniawiku yang padanya
kehidupanku. Perbaikilah akhiratku, yang kepadanya tempatku kembali. Jadikanlah
hidup ini sebagai lahan uapayaku menambah segala kebajikan, dan jadikanlah mati
sebagai titik henti bagiku dari segala keburukan” [Muslim, Shahih Muslim, Kitab
Adz-Dzikr Wad-Du’a wat-Taubah wal Istighfar, bab At-Ta’awwudz min Syarri Ma’
Amila wa Min Syarri Malam Ya’mal]
Juga do’a beliau.
“Artinya : Ya
Allah, hanya RahmatMu jualah yang kuharap. Karenanya titipkan diriku pada diriku
walaupun sekejap mata, perbaikilah keadaanku seluruhnya Tiada Tuhan Yang Haq
disembah kecuali Engkau” [Hadits Riwayat Abu Dawud dengan sanad Shahih]
[1]
Jika bibir seorang hamba mengucapkan do’a ini –yang mengandung
kebaikan masa depan bagi nilai religinya maupun urusan duniawinya- dengan hati
yang memusat dan niat yang benar, seiring berupaya merealisasikan hal itu dengan
berbuat, niscaya Allah akan mewujudkan apa yang ia panjatkan dalam do’anya dan
yang ia harapkan serta yang ia upayakan itu menjadi realita, dan kegelisahannya
pun akan berubah menjadi kegembiraan dan kesukacitaan
_________
Foote Note [1] Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal
dalam Musnadnya, Al-Fath Ar-Rabbani Li Tartibi Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal
Asy-Syaibani, Kitab Al-Adzkar Wad-Da’wat, bab Ma Yuqalu Fis-Shabah Wal Masa.
Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan At-Thabrani, ia nyatakan sanadnya Hasan]