Demikian halnya, jika ia tertimpa atau khawatir tertimpa cobaan atau hal yang
tidak diinginkannya, seyogianya ia membandingkan ni’mat-ni’mat yang masih
melekat padanya, baik di sisi kehidupan religi atau duniawi, dengan
cobaan-cobaan yang menimpanya itu. Maka, saat membandingkan antara keduanya itu,
akan nyata betapa banyaknya ni’mat yang dirasakannya dan betapa kecilnya cobaan
yang menimpanya.
Begitu juga, seyogianya ia membandingkan bahaya yang
dikhawatiri akan terjadinya itu dengan banyaknya peluang kemungkinan terhindar
darinya. Maka, janganlah ia membiarkan kemungkinan yang lemah tadi mengalahkan
banyaknya kemungkinan yang kuat itu. Dengan ini, akan sirnalah kegundahan dan
kekhawatirannya. Hendaknya ia pun memperhitungkan kemungkinan terbesar yang
dimungkinkan menimpanya. Lalu, ia kuatkan hatinya untuk menghadapinya kalaupun
terjadi, dan berupaya untuk mencegah yang belum terjadi dan menangkis atau
meringankan cobaan yang terjadi.